Event  

Pertunjukan Tari Bertema Sampah Mengajak Publik Merefleksikan Kesadaran Lingkungan

banner 120x600

Muara Jambi, 27 Desember 2025 – Isu sampah kembali disuarakan dengan cara yang berbeda. Melalui bahasa tubuh dan gerak tari, persoalan lingkungan dihadirkan dalam sebuah pertunjukan koreografi berbasis kesadaran ekologis yang digelar di Mendalo Darat, Muara Jambi. Kegiatan ini menjadi bagian dari praktik pembelajaran Mata Kuliah Koreografi IV Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik Universitas Jambi.

Pertunjukan tersebut mengangkat sampah bukan sekadar sebagai persoalan kebersihan, melainkan sebagai simbol relasi manusia dengan alam yang kerap terabaikan. Lewat eksplorasi gerak, ruang, dan material, realitas lingkungan sekitar diterjemahkan ke dalam karya tari yang reflektif dan kontekstual.

Sampah hadir di atas panggung sebagai medium tafsir. Tubuh para penari bergerak, berinteraksi dengan ruang, sekaligus membangun narasi tentang dampak kelalaian manusia terhadap lingkungan. Dalam konteks ini, tari tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai bentuk kritik sosial yang halus namun mengena.

Salah satu koreografer, Regita Audina Rahman, mengungkapkan bahwa proses penciptaan karya bertema lingkungan memberinya perspektif baru tentang ruang dan kehadiran tubuh.


“Koreografi lingkungan membuat saya sadar bahwa kita bisa hadir di ruang yang beragam. Lingkungan menjadi alternatif untuk menemukan persoalan nyata, lalu diolah menjadi karya seni pertunjukan yang bermakna,” ujarnya. Menurutnya, keterlibatan langsung dengan ruang dan isu lingkungan menjadikan tari sebagai medium refleksi, bukan sekadar tontonan.

Dosen pengampu mata kuliah, Riswani, M.Sn., menegaskan bahwa Koreografi IV dirancang untuk membentuk kepekaan terhadap realitas sosial dan ekologis. Ia menilai isu sampah merupakan persoalan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan, sehingga mampu menghadirkan karya yang jujur dan relevan.
“Peserta tidak hanya dituntut mencipta gerak, tetapi juga membaca konteks di sekitarnya. Dari situ, karya yang lahir memiliki kedekatan dengan realitas,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Galuh Tulus Utama, S.Pd., M.Sn., yang menekankan pentingnya seni pertunjukan sebagai ruang dialog. Menurutnya, koreografi berbasis lingkungan melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam merespons persoalan zaman.

“Seni pertunjukan menjadi jembatan antara tubuh, lingkungan, dan masyarakat. Ini penting agar seni tidak terlepas dari realitas sosial,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab kolektif. Melalui pendekatan artistik yang puitik dan emosional, pesan tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bijak disampaikan tanpa kesan menggurui. Diharapkan, seni pertunjukan semacam ini mampu menumbuhkan kepedulian lingkungan sekaligus memperkuat peran seni sebagai medium edukasi, refleksi, dan perubahan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *