Tanjung Jabung Timur – 17 Maret 2026. Laman Baca di Desa Bandar Jaya kini hadir sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak, khususnya dari keluarga petani di sekitar kebun sawit. Teras rumah sederhana di RT 04 yang sebelumnya sunyi, kini memiliki fungsi baru sebagai tempat berkumpul dan membaca.
Kegiatan ini baru dimulai setiap Minggu sore dengan prioritas bagi anak-anak dari keluarga petani. Dari lingkungan kebun sawit itulah mereka datang, membawa rasa ingin tahu di tengah keseharian yang lekat dengan pekerjaan orang tua mereka.
Di tempat itu, mereka membaca buku bersama di Laman Baca, sebuah ruang belajar terbuka yang inklusif. Teras sederhana tersebut kini dipenuhi halaman-halaman buku yang dibuka, menghadirkan dunia baru bagi anak-anak yang tumbuh di sekitar kebun sawit.
Ternyata, Surini Widyawati menginisiasi gerakan ini secara mandiri. Selain itu, putri daerah lulusan Arkeologi Universitas Jambi ini sengaja pulang demi membenahi ketimpangan informasi di tanah kelahirannya. Oleh karena itu, aktivitas di teras ini menjadi bukti nyata kepeduliannya terhadap pendidikan.
Lebih lanjut, Anda dapat memantau setiap kegiatan inspiratif anak-anak tersebut melalui dokumentasi di media sosial resmi laman baca ini.

Data Literasi Pesisir: Sebuah Urgensi
Pertama-tama, langkah Surini memiliki dasar yang kuat. Sebab, data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi menunjukkan bahwa Jambi masih menghadapi tantangan dalam pembangunan literasi. Pada tahun 2023 (diakses 2025), nilai indeks literasi Provinsi Jambi tercatat sebesar 64,87, yang menunjukkan kondisi literasi berada pada kategori sedang. (Baca Selengkapnya)
Secara lebih spesifik, di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, nilai indeks literasi berada di angka 61,32, lebih rendah dibanding rata-rata provinsi. Angka ini mencerminkan bahwa akses terhadap bahan bacaan, fasilitas literasi, serta ekosistem membaca di wilayah tersebut masih belum optimal.
Lebih lanjut, kondisi geografis Tanjung Jabung Timur turut memperburuk keadaan. Hal ini dikarenakan wilayah rawa dan perairan mendominasi hingga 70% luas wilayah. Akibatnya, hambatan logistik sering muncul dalam distribusi buku ke pelosok.
Selanjutnya, ketimpangan semakin nyata jika melihat data Perpustakaan Nasional. Secara nasional, satu buku harus diperebutkan oleh 90 orang (1:90). Namun, di Desa Bandar Jaya, angka ini bisa melonjak hingga 1:200. Oleh karena itu, akses ke toko buku menjadi sangat sulit. Ditambah lagi, koleksi perpustakaan formal jarang mendapat pembaruan berkala.
“Arkeologi mengajarkan saya bahwa literasi adalah fondasi peradaban,” ujar Surini. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa tanpa buku, anak-anak petani berisiko kehilangan kesempatan untuk memperluas pengetahuan mereka.
Laman Baca: Ruang Bermain dan Belajar

Sementara itu, Surini sadar bahwa minat baca membutuhkan stimulus yang menarik. Maka dari itu, Laman Baca mengusung konsep edutainment. Tujuan dari konsep ini adalah menjembatani jurang literasi dengan cara berikut:
Distribusi Mandiri: Surini menghadirkan buku di jantung pemukiman. Dengan demikian, anak-anak tidak perlu menempuh jarak jauh ke pusat kecamatan.
Pendekatan Aktif: Ia tidak menggunakan cara kaku. Sebaliknya, anak-anak mengenal buku lewat visual dan storytelling yang cair. Hasilnya, buku berubah menjadi “alat bermain” yang seru.
Ekosistem Inklusif: Laman Baca menjadi satu-satunya ruang belajar gratis bagi anak petani. Sehingga, mereka tetap mendapat asupan kognitif di luar jam sekolah.
Visi Menuju Rumah Baca
Meskipun antusiasme anak-anak sangat tinggi, namun tantangan besar masih membayangi. Hal ini terjadi karena keberlanjutan minat baca bergantung pada koleksi buku yang variatif. Oleh karena itu, Laman Baca terus berjuang menambah buku baru sesuai usia anak.
Selanjutnya, Surini ingin mengubah teras ini menjadi Rumah Baca yang permanen. Sebab, ia yakin pembangunan manusia harus dimulai dari tindakan nyata. Jadi, mendekatkan sumber ilmu ke depan pintu rumah adalah kunci utama.
Akhir kata, Surini Widyawati membuktikan satu hal penting. Yaitu, perubahan tidak harus menunggu kebijakan pusat. Sebaliknya, keberanian seorang putri daerah mampu menyelamatkan generasi dari kegelapan informasi.













