Muaro Jambi, 21 Maret 2026 – Tradisi topeng labu kembali digelar pada hari pertama Idul Fitri di Desa Muaro Jambi. Anak-anak dan pemuda desa berkeliling kampung dengan mengenakan topeng dari labu kering.
Rute kegiatan dimulai dari RT 9 hingga RT 1 dengan jarak sekitar delapan kilometer. Para peserta berjalan kaki menyusuri jalan desa. Mereka menari dan bernyanyi dengan iringan alat musik tradisional. Sementara itu, warga menyaksikan dari halaman rumah. Interaksi berlangsung langsung tanpa pembatas antara pelaku dan penonton.
Selanjutnya, peserta berhenti di rumah-rumah warga. Mereka menampilkan pertunjukan singkat di depan rumah. Pemilik rumah kemudian memberikan saweran kepada peserta. Dengan demikian, interaksi sosial terbentuk secara langsung sepanjang rute perjalanan.
Regenerasi Tradisi Topeng Labu di Muaro Jambi

Masyarakat Desa Muaro Jambi terus mewariskan tradisi ini secara turun-temurun. Anak-anak menjadi pelaku utama dalam kegiatan tersebut. Sejak usia dini, mereka ikut serta dalam kegiatan ini. Setiap tahun, generasi baru terus muncul.
Sebagian anak mengikuti kegiatan ini sejak kecil, lalu tetap terlibat hingga remaja. Oleh karena itu, tradisi topeng labu berjalan secara konsisten di tengah masyarakat.
Selain itu, Perkumpulan Rumah Manapo turut mengakomodasi kegiatan tersebut. Komunitas ini mengoordinasikan pelaksanaan bersama masyarakat dan kalangan anak muda. Mereka menjaga keterlibatan peserta serta memastikan kegiatan tetap berjalan setiap tahun.
Di sisi lain, keterlibatan anak muda menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Peserta tidak selalu sama setiap tahun. Namun, selalu ada anak-anak yang bergantian ikut. Dengan pola ini, tradisi tetap hidup tanpa perlu sistem formal.
Keberadaan tradisi ini juga tidak terlepas dari cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat. Sejumlah kisah di Muaro Jambi menyebut tradisi topeng labu berkaitan dengan cerita penderita Kusta pada masa lalu. Dalam cerita tersebut, mereka tidak tinggal di dalam kampung karena masyarakat khawatir terhadap penularan penyakit. Namun saat hari raya, kerinduan kepada keluarga mendorong mereka kembali ke desa. Untuk menutupi identitas, mereka menutup wajah dengan topeng yang dibuat dari labu kering. Kisah ini kemudian berkembang dan menyertai pelaksanaan tradisi topeng labu hingga sekarang.
Tradisi tersebut berlangsung di kawasan Candi Muaro Jambi yang merupakan bagian dari Kawasan Cagar Budaya Nasional. Aktivitas masyarakat berjalan berdampingan dengan situs arkeologis yang berada di kawasan tersebut. Warga sekitar juga memanfaatkan area ini sebagai ruang sosial dan budaya.
Pada akhirnya, tradisi topeng labu tetap berjalan tanpa perubahan signifikan. Rute dan waktu pelaksanaan tetap sama setiap tahun. Generasi muda terus terlibat sehingga tradisi ini bertahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat desa.


