Umum  

Panen Kopi Robusta Tamiai di Kerinci Dorong Regenerasi Petani Kopi Jambi

Panen Kopi Robusta Tamiai oleh PPKJ di Desa Tamiai Kerinci saat kegiatan petik merah kopi Jambi
Peserta bersama petani melakukan petik merah dalam kegiatan Panen Kopi Robusta Tamiai di Desa Tamiai, Kabupaten Kerinci, sebagai bagian dari upaya penguatan kopi Jambi dari hulu ke hilir.
banner 120x600

KERINCI, 25 Mei 2026 – Panen Kopi Robusta Tamiai menjadi agenda utama Perkumpulan Penggiat Kopi Jambi (PPKJ) yang digelar di Desa Tamiai, Kabupaten Kerinci, pada 22 – 24 Mei 2026. Kegiatan ini mempertemukan petani, pelaku industri, komunitas, dan pemangku kepentingan untuk membahas masa depan kopi Jambi dari hulu hingga hilir.

Selain itu, kegiatan ini membuka ruang kolaborasi antar pelaku kopi di daerah. Dengan demikian, Panen Kopi Robusta Tamiai menjadi momentum penting dalam pengembangan ekosistem kopi Jambi.

Sebanyak 15 peserta dari Kota Jambi, satu peserta dari Kerinci, serta masyarakat Desa Tamiai ikut terlibat dalam kegiatan ini.

Kelompok peserta kegiatan kopi Jambi berfoto bersama di Desa Tamiai Kerinci saat kunjungan lapangan Panen Kopi Robusta
Peserta kegiatan Panen Kopi Robusta Tamiai berkumpul dan berfoto bersama di Desa Tamiai, Kerinci, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan edukasi dan kolaborasi kopi Jambi.

Sejarah Kopi di Desa Tamiai

PPKJ memilih Desa Tamiai sebagai lokasi kegiatan karena wilayah ini menyimpan sejarah panjang kopi Jambi. Kawasan ini masih memiliki kebun kopi tua serta sisa pabrik peninggalan Belanda di Batang Merangin.

Sejarah tersebut membuat Panen Kopi Robusta Tamiai tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada pelestarian warisan kopi di Kerinci.

Regenerasi Petani Kopi Jambi

Kegiatan dibuka melalui Edu Talk “The Last Farmer” yang disampaikan Ketua PPKJ, Juanda Atmaja. Ia menyoroti kondisi petani yang didominasi usia lanjut dan minim regenerasi.

“Tanpa regenerasi, masa depan kopi Jambi bisa terancam,” ujar Juanda.

Selain itu, kegiatan ini mendorong generasi muda agar lebih tertarik pada sektor pertanian kopi.

Petani sedang meratakan kopi merah (cherry coffee) pada proses penjemuran di area Panen Rayo Kopi Kerinci, Jambi.
Proses penjemuran kopi merah (cherry coffee) dalam kegiatan Panen Rayo Kopi Jambi di Desa Tamiai, Kerinci. Kegiatan ini memperlihatkan tahapan pascapanen kopi robusta yang dilakukan petani sebelum masuk proses pengolahan lebih lanjut.

Smart Farming untuk Petani Muda

Dalam rangkaian Panen Kopi Robusta Tamiai, Efryawan (WaOne) memandu Smart Farming Clinic di Desa Tamiai. Ia memperkenalkan Sistem Pagar sebagai metode budidaya kopi yang lebih efisien.

Ia mengadaptasi metode tersebut dari praktik petani kopi Aceh, Armiadi. Metode ini membantu petani meningkatkan produktivitas lahan dan mengelola kebun secara lebih efektif.

Dengan demikian, inovasi ini membuka peluang pertanian kopi yang lebih berkelanjutan di Kerinci.

Pascapanen dan Kualitas Kopi

Peserta juga mengikuti pelatihan pascapanen bersama Beekrison, seorang Q Grader. Ia menjelaskan proses sortasi, pengeringan, hingga penyimpanan kopi secara langsung.

Ia menegaskan bahwa kualitas kopi tidak hanya berasal dari kebun. Proses pascapanen sangat menentukan cita rasa akhir kopi.

Selain itu, peserta belajar bahwa ketelitian di tahap ini meningkatkan nilai jual kopi Jambi.

Roasting dan Cupping Kopi

Peserta kemudian mengikuti pelatihan roasting, seduh, dan cupping bersama Nopan D. Putra. Mereka belajar mengenali rasa, aroma, dan karakter kopi secara langsung.

Selain itu, peserta memahami standar kualitas kopi yang dibutuhkan pasar. Kegiatan ini memperkuat pemahaman rantai nilai kopi dari hulu ke hilir.

Kolaborasi dan Penutup Kegiatan

Puncak kegiatan ditandai dengan petik merah bersama di kebun kopi Desa Tamiai. Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Jambi, Bank Indonesia, OPD, lembaga adat, dan masyarakat.

Kolaborasi ini memperkuat hubungan antara petani, pemerintah, dan pelaku industri kopi di Jambi. Dengan demikian, Panen Kopi Robusta Tamiai menjadi ruang penting dalam memperkuat ekosistem kopi daerah.

Pada akhirnya, kegiatan ini menegaskan bahwa kopi bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga identitas budaya masyarakat Jambi. Selain itu, PPKJ menjadikan kegiatan ini sebagai ruang edukasi dan kolaborasi berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *