Umum  

Candi Pematang Jering dan Jejak Jambi dalam Jaringan Maritim Asia

banner 120x600

JAMBI – Di tengah perhatian besar terhadap kawasan percandian Muaro Jambi, sebuah situs di Desa Pematang Jering, Kabupaten Muaro Jambi, perlahan mulai mendapatkan perhatian. Situs Candi Pematang Jering menyimpan jejak aktivitas manusia yang berlangsung dalam rentang waktu panjang, sekaligus memperlihatkan keterhubungan Jambi dengan jaringan perdagangan dan kebudayaan Asia pada masa lalu.

Upaya memperkenalkan situs tersebut kepada publik dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merangkai Jejak Peradaban Klasik: Menghidupkan Situs Candi Pematang Jering sebagai Warisan Budaya” di Gedung SSL Hexagon, Universitas Jambi, Kamis (20/8/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, akademisi, pemerintah desa, mahasiswa, komunitas, dan jurnalis. Pembahasan tidak hanya mengenai hasil penelitian arkeologi, tetapi juga bagaimana situs dapat dilestarikan dengan melibatkan masyarakat.

Ketua Tim Pelaksana FGD, M Sobar Alfahri, mengatakan tinggalan arkeologi seharusnya tidak hanya menjadi konsumsi kalangan akademik.

“Masyarakat juga perlu mengetahui hasil penelitian arkeologis, bahkan terlibat dalam pelestarian situs cagar budaya di sekitar mereka,” kata Sobar.

FGD tersebut mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi melalui program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan.

Menemukan Jejak Peradaban

Penelitian dan ekskavasi yang dilakukan akademisi Universitas Jambi sepanjang 2022 hingga 2026 mulai membuka cerita mengenai Pematang Jering.

Di kawasan situs telah teridentifikasi tiga struktur utama, yakni mandapa, candi induk, dan parit kuno. Sejumlah artefak juga ditemukan, mulai dari pecahan keramik Tiongkok, tembikar, manik-manik karnelian dari India, hingga paku-paku besi.

Dosen Arkeologi Universitas Jambi, Ari Mukti Wardoyo, mengatakan temuan tersebut menunjukkan potensi besar situs Pematang Jering.

“Masyarakat baru tahu kalau ternyata di desa mereka ada potensi yang sangat luar biasa seperti ini. Karakteristik temuannya tidak kalah dengan yang ada di Muaro Jambi,” ujar Ari.

Menurut Ari, Pematang Jering dapat dipahami sebagai bagian dari mandala, yakni ruang keagamaan dalam lanskap kekuasaan masa lalu.

Posisinya juga tidak dapat dilepaskan dari Sungai Batanghari. Sungai menjadi jalur penting yang memungkinkan pergerakan manusia, barang, dan kebudayaan.

Keramik yang Menghubungkan Pematang Jering dengan Asia

Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah keramik impor.

Pecahan keramik Tiongkok yang ditemukan di situs menunjukkan rentang periode yang panjang, mulai dari masa Dinasti Tang, Song, Ming, hingga Qing. Selain itu, ditemukan pula keramik dari Thailand dan Vietnam.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa Pematang Jering bukan kawasan yang terisolasi.

Barang-barang dari berbagai wilayah Asia pernah mencapai kawasan ini. Jejak material tersebut menjadi petunjuk bahwa masyarakat di sekitar Batanghari pada masa lalu berada dalam jaringan pertukaran yang lebih luas.

Artinya, sebuah pecahan keramik yang ditemukan dari dalam tanah Pematang Jering dapat menjadi petunjuk tentang hubungan kawasan ini dengan jaringan perdagangan maritim Asia.

Menuju Cagar Budaya

Selain penelitian, perhatian kini diarahkan pada status pelestarian situs.

Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi menyatakan dukungan terhadap upaya penetapan Situs Candi Pematang Jering sebagai cagar budaya.

Pamong Budaya Ahli Madya Balai Pelestarian Kebudayaan Jambi, Sri Mulyati, mengatakan pelestarian situs sebenarnya telah dilakukan sejak 1991 melalui inventarisasi dan identifikasi.

“Kami juga mendirikan juru pelihara di sana sejak tahun tersebut untuk menjaga dan merawat kelestarian candi,” ujar Sri.

Menurutnya, berbagai kajian teknis, ekskavasi, pemeliharaan, dan pelindungan telah dilakukan. Balai Pelestarian Kebudayaan juga terus menyiapkan kajian teknis untuk mendukung proses penetapan cagar budaya.

“BP Kebudayaan sangat mendorong penetapan Situs Candi Pematang Jering sebagai Cagar Budaya,” katanya.

Penetapan tersebut diharapkan dapat memberikan dasar yang lebih kuat bagi pelindungan, penelitian, dan pemanfaatan situs pada masa mendatang.

Tidak Berhenti sebagai Situs Arkeologi

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi melihat potensi lain dari keberadaan situs tersebut.

Staf Ahli Bidang Kesejahteraan Rakyat dan SDM, Yultasmi, berharap hasil FGD dapat diteruskan melalui penyusunan roadmap bersama yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Langkah-langkah strategi pelestarian, penyelenggaraan, dan pemanfaatan ini dapat dituangkan dalam sebuah roadmap yang disepakati oleh semua pemangku kepentingan,” ujarnya.

Menurut Yultasmi, pengelolaan situs harus mampu memberikan manfaat bagi kebudayaan, pariwisata, sekaligus perekonomian masyarakat.

Dari sektor pariwisata, Candi Pematang Jering berpotensi menjadi bagian dari ekosistem wisata desa yang telah memiliki sejumlah daya tarik, seperti Danau Gatal, Sungai Kelulut, keramba ikan, dan festival perahu.

Pemuda desa juga didorong membentuk komunitas atau koperasi yang bergerak di bidang pariwisata. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal.

Namun, pengembangan tersebut membutuhkan satu hal penting: keterlibatan masyarakat.

Sebab, pelestarian situs yang berada di tengah kehidupan warga tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah atau akademisi. Masyarakat yang hidup paling dekat dengan situs perlu menjadi bagian dari proses tersebut.

Membawa Sejarah Keluar dari Ruang Akademik

FGD Pematang Jering pada akhirnya bukan sekadar forum membicarakan temuan arkeologi.

Ada upaya untuk membawa pengetahuan tentang situs keluar dari ruang akademik dan mendekatkannya kepada publik.

Candi Pematang Jering bukan hanya tentang bata, struktur bangunan, atau pecahan keramik yang ditemukan dari dalam tanah. Di balik benda-benda tersebut terdapat cerita tentang manusia, perjalanan, perdagangan, agama, dan hubungan antarkawasan pada masa lalu.

Sungai Batanghari menjadi salah satu kunci untuk membaca cerita tersebut.

Karena itu, merawat Pematang Jering berarti merawat bagian dari cerita panjang Jambi.

Kini, tantangannya adalah memastikan cerita itu tidak hanya tersimpan dalam laporan penelitian.

Ia perlu dikenal masyarakat, dirawat bersama, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *